Rabu, 20 Juni 2012

Kesultanan Malaka Salah Satu Warisan Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

by Drs. H. mutawalli, M.Pdi.
http://images.karimsh.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/Rs0CiwoKCncAAAt97R41/parameswara.jpg?et=gnVq0uszgnZWfPUKEzIvzQ

Sejarah Kesultanan Malaka, Semenanjung Malaya
Kesultanan Melaka (1402 – 1511) adalah sebuah Kesultanan Melayu Islam yang didirikan oleh Parameswara, seorang putra Melayu berketurunan Sriwijaya. Kesultanan Malaka terletak di wilayah penyempitan selat di Semenanjung Melayu. Sejak zaman Sriwijaya, Semenanjung Melayu merupakan tempat yang sangat trategis bagi jalur perdagangan antara barat dan timur.

Parameswara merupakan turunan ketiga dari Sri Maharaja Sang Utama Parameswara Batara Sri Tri Buana (Sang Nila Utama), seorang penerus raja Sriwijaya[1]. Sang Nila Utama mendirikan Singapura Lama dan berkuasa selama 48 tahun. Kekuasaannya dilanjutkan oleh putranya Paduka Sri Pekerma Wira Diraja (1372 – 1386) yang kemudian diteruskan oleh cucunya, Paduka Seri Rana Wira Kerma (1386 – 1399). Pada tahun 1401, Parameswara putra dari Seri Rana Wira Kerma, mengungsi dari Tumasik setelah mendapat penyerangan dari Majapahit.



Ibu kota kerajaan ini terdapat di Melaka, yang terletak pada Selat Malaka. Kesultanan ini berkembang pesat menjadi sebuah entrepot dan menjadi pelabuhan terpenting di Asia Tenggara pada abad ke-15 dan awal 16. Malaka runtuh setelah ibukotanya direbut oleh Portugis pada tahun 1511.

Kejayaan yang dicapai oleh Kerajaan Melaka di sebabkan oleh beberapa faktor penting yaitu, Parameswara telah mengambil kesempatan untuk menjalinkan hubungan baik dengan negara Cina ketika Laksamana Yin Ching mengunjungi Melaka pada tahun 1403. Salah seorang dari sultan Malaka telah menikahi seorang putri dari negara Cina yang bernama Putri Hang Li Po. Hubungan erat antara Melaka dengan Cina telah memberi banyak manfaat kepada Malaka. Malaka mendapat perlindungan dari Cina yang merupakan pemegang kekuasaan terbesar di dunia pada masa itu untuk menghindari serangan Siam.

Pada masanya setiap harinya kapal-kapal dari negeri asing berdatangan dan singgah di sana. Tentu saja kedatangan para pelaut-pelaut asing tersebut membuat Semenanjung Melayu tersebut menjadi wilayah yang tumbuh dengan pesat.

Hal itu terjadi karena para pelaut-pelaut asing tersebut datang dengan membawa berbagai macam barang-barang yang mereka dagangkan. Maka jadilah Semenanjung Melayu (diwilayah bagian Malaka) menjadi sebuah pelabuhan sekaligus Bandar Raya.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivcI8WUQTDrUgy7_Em2Nl3x3nK5U_USbcff4OEvOQxy7kXdgURjUvddaGU3TShsot-VX6Zm8koGlNAyKx4ElfqvZ2RNNTy9oJ2wAh4B7uGUIdHKIArdSnvHc2sc1gpv5m0VPKnc7LeZlBq/s320/250px_SultanateMalacca.GIF
Wilayah Kesultanan Malaka

Banyak negeri-negeri lain yang menginginkan Semenanjung Melayu masuk dalam wilayah kekuasaannya, mengingat wilayah Semenanjung Melayu merupakan tempat yang sangat strategis bagi jalur perdagangan antara barat dan timur.

Namun apa daya, angkatan perang kerajaan Sriwijaya sangat kuat dan susah ditaklukkan kala itu. Apalagi Raden Sri Pakunalang sebagai Panglima Tertinggi pada masa Ratu Dewayani dan Raja Cudamaniwarnadewa berkuasa sangat ahli akan stategis perang.

Tak hanya negeri-negeri lain yang ingin menguasai Semenanjung Melayu, penduduk asli pun sangat ingin memerdekakan tanah kelahirannya. Akan tetapi setiap daya dan upaya mereka selalu saja gagal ditangan prajurit-prajurit kerajaan Sriwijaya.

Hingga pada masa Raja Sri Sanggranawijayatunggawarman berkuasa di Sriwijaya. Semenanjung Melayu lepas dari tangan Sriwijaya. Uniknya Semenanjung Melayu merdeka berkat kerja keras seorang mantan raja Sriwijaya.

Parameswara namanya atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah, ketika beliau telah memeluk agama Islam. Berhasil merebut Semenanjung Melayu dari tangan Sriwijaya, dan mendirikan sebuah kerajaan Islam yang diberinama Kesultanan Malaka.

Parameswara atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah menjadi raja pertamanya dengan gelar Sultan Iskandar Syah. Pada masa kepemerintahannya, Malaka mengalami masa kejayaan. Negeri Malaka menjadi negara Islam yang makmur.

Dengan Panglima tertinggi, Panglima Tuan Junjungan serta si kembar Panglima Bagus Karang dan Panglima Bagus Sekuning. Negeri Malaka selalu berhasil mengalahkan para penjajah seperti negeri Siam dan Majapahit. Dan tak ketinggalan juga jasa seorang laksamana angkatan laut bernama Hang Tuah.
Dikarenakan suatu hal, Sultan Iskandar Syah memutuskan kembali ke Lembang Melayu (Palembang). Kala itu Sriwijaya masih ada, namun tidak memiliki kedaulatan. Kemudian kedudukan raja digantikan oleh penerusnya dengan gelar Sultan Mayat Iskandar Syah (1414-1424 M).

Pada tahun 1424 M, Kesultanan Malaka di perintah oleh Sultan Muhammad Iskandar Syah. Pada masa kepemerintahannya, Malaka semakin maju sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dari berbagai negeri. Sultan Muhammad Iskandar Syah digantikan oleh putera bungsunya yang bernama Paramesara Dewa Syah.
Parameswara Dewa Syah menjadi raja dengan gelar Sultan Abu Syahid. Namun, ia hanya memerintah Malaka hanya satu tahun saja (1445-1446 M). Parameswara Dewa Syah terbunuh dalam perebutan kekuasaan oleh sepupunya yang bernama Mudzaffar.

Ia memerintah Malaka dengan gelar Sultan Mudzaffar Syah (1446-1458 M). Kemudian ia digantikan puteranya yang ketika naik tahta bergelar Sultan Mansyur Syah (1458-1477 M). Kesultanan Malaka kemudian dipimpin oleh Sultan Alaudin Riayat Syah (1477-1488 M).
Pada tahun 1488 M, Malaka dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah. Sayangnya Sultan Mahmud Syah sangat mewarisi sifat kakek buyutnya (Sultan Mudzaffar Syah) yang tamak dan serakah. Tahun 1509 M, Diego Lopez de Sequiera dari kerajaan Portugis tiba di Malaka dengan rombongan sebanyak 18 kapal. Rombongan dari Portugis (Portugal) ini merupakan rombongan orang Eropa pertama yang tiba di Asia Tenggara.
Sayangnya, kelakukan orang-orang Eropa ini sangat tidak terpuji. Mereka sering berbuat onar terutama mengganggu para gadis. Atas usulan penasehat kerajaan, maka Sultan Mahmud Syah memerintahkan prajuritnya untuk mengusir orang-orang Eropa tersebut dan berhasil menangkap 20 orang dari mereka.
Pada 10 Agustus 1511, armada laut Portugis yang besar dari India menyerang Malaka. Armada perang yang beasr tersebut di pimpin oleh Alfonso d’ Albuquerque. Terjadilah peperangan selama 10 hari hingga akhirnya Malaka jatuh ketangan Portugis.

Sultan Mahmud Syah melarikan diri ke pantai timur Semenanjung Melayu, tepatnya daerah Pahang. Maka habislah sudah masa Kesultanan Malaka yang dibangun oleh Parameswara.

Politik Negara
Dalam menjalankan dan menyelenggarakan politik negara, ternyata para sultan menganut paham politik hidup berdampingan secara damai (co-existence policy) yang dijalankan secara efektif. Politik hidup berdampingan secara damai dilakukan melalui hubungan diplomatik dan ikatan perkawinan. Politik ini dilakukan untuk menjaga keamanan internal dan eksternal Malaka. Dua kerajaan besar pada waktu itu yang harus diwaspadai adalah Cina dan Majapahit. Maka, Malaka kemudian menjalin hubungan damai dengan kedua kerajaan besar ini. Sebagai tindak lanjut dari politik negara tersebut, Parameswara kemudian menikah dengan salah seorang putri Majapahit.
Sultan-sultan yang memerintah setelah Prameswara (Muhammad Iskandar Syah)) tetap menjalankan politik bertetangga baik tersebut. Sebagai bukti, Sultan Mansyur Syah (1459—1477) yang memerintah pada masa awal puncak kejayaan Kerajaan Malaka juga menikahi seorang putri Majapahit sebagai permaisurinya. Di samping itu, hubungan baik dengan Cina tetap dijaga dengan saling mengirim utusan. Pada tahun 1405 seorang duta Cina Ceng Ho datang ke Malaka untuk mempertegas kembali persahabatan Cina dengan Malaka. Dengan demikian, kerajaan-kerajaan lain tidak berani menyerang Malaka.

Pada tahun 1411, Raja Malaka balas berkunjung ke Cina beserta istri, putra, dan menterinya. Seluruh rombongan tersebut berjumlah 540 orang. Sesampainya di Cina, Raja Malaka beserta rombongannya disambut secara besar-besaran. Ini merupakan pertanda bahwa, hubungan antara kedua negeri tersebut terjalin dengan baik. Saat akan kembali ke Malaka, Raja Muhammad Iskandar Syah mendapat hadiah dari Kaisar Cina, antara lain ikat pinggang bertatahkan mutu manikam, kuda beserta sadel-sadelnya, seratus ons emas dan perak, 400.000 kwan uang kertas, 2600 untai uang tembaga, 300 helai kain khasa sutra, 1000 helai sutra tulen, dan 2 helai sutra berbunga emas. Dari hadiah-hadiah tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa, dalam pandangan Cina, Malaka adalah kerajaan besar dan diperhitungkan.

Di masa Sultan Mansur Syah, juga terjadi perkawinan antara Hang Li Po, putri Maharaja Yung Lo dari dinasti Ming, dengan Sultan Mansur Shah. Dalam prosesi perkawinan ini, Sultan Mansur Shah mengirim Tun Perpateh Puteh dengan serombongan pengiring ke negeri China untuk menjemput dan membawa Hang Li Po ke Malaka. Rombonga ini tiba di Malaka pada tahun 1458 dengan 500 orang pengiring.

Demikianlah, Malaka terus berusaha menjalankan politik damai dengan kerajaan-kerajaan besar. Dalam melaksanakan politik bertetangga yang baik ini, peran Laksamana Malaka Hang Tuah sangat besar. Laksamana yang kebesaran namanya dapat disamakan dengan Gajah Mada atau Adityawarman ini adalah tangan kanan Sultan Malaka, dan sering dikirim ke luar negeri mengemban tugas kerajaan. Ia menguasai bahasa Keling, Siam dan Cina.


Hang Tuah

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsQB1ZLPVs5U9klrNmG0V_joIRKVMmnsI0D8tREPo0RLtwjX1I7MpwSi69X6HtJONFMSaNNgOZYg0cX6nRCi4arWETjzDa1OktQfA1esO6FId8H22JtTFbpZVuxQjQfYR9H_RnKm6h6oI/s1600/Hang+Tuah.gif
Laksamana Hang Tuah


Hang Tuah lahir di Sungai Duyung Singkep. Ayahnya bernama Hang Machmud dan ibunya bernama Dang Merdu. Kedua orang tuanya adalah rakyat biasa yang hidup sebagai petani dan penangkap ikan.

Keluarga Hang Tuah kemudian pindah ke Pulau Bintan. Di sinilah ia dibesarkan. Dia berguru di Bukit Lengkuas, Bintan Timur. Pada usia yang masih muda, Hang Tuah sudah menunjukkan kepahlawanannya di lautan. Bersama empat orang kawan seperguruannya, yaitu Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiyu, mereka berhasil menghancurkan perahu-perahu bajak laut di sekitar perairan dan selat-selat di Kepulauan Riau, sekalipun musuh mereka jauh lebih kuat.
Karena kepahlawanan Hang Tuah dan kawan-kawannya tersebut, maka Sultan Kerajaan Malaka mengangkat mereka sebagai prajurit kerajaan. Hang Tuah sendiri kemudian diangkat menjadi Laksamana Panglima Angkatan Laut Kerajaan Malaka. Sedangkan empat orang kawannya tersebut di atas, kelak menjadi prajurit Kerajaan Malaka yang tangguh.

Dalam pengabdiannya demi kebesaran Malaka, Laksamana Hang Tuah dikenal memiliki semboyan berikut.
1. Esa hilang dua terbilang
2. Tak Melayu hilang di bumi.
3. Tuah sakti hamba negeri.

Hingga saat ini, orang Melayu masih mengagungkan Hang Tuah, dan keberadaanya hampir menjadi mitos. Namun demikian, Hang Tuah bukanlah seorang tokoh gaib. Dia meninggal di Malaka dan dimakamkan di tempat asalnya, Sungai Duyung di Singkep.

Malaka Sebagai Pusat Penyebaran Agama Islam
Sebelum muncul dan tersebarnya Islam di Semenanjung Arabia, para pedagang Arab telah lama mengadakan hubungan dagang di sepanjang jalan perdagangan antara Laut Merah dengan Negeri Cina. Berkembangnya agama Islam semakin memberikan dorongan pada perkembangan perniagaan Arab, sehingga jumlah kapal maupun kegiatan perdagangan mereka di kawasan timur semakin besar.

Pada abad VIII, para pedagang Arab sudah banyak dijumpai di pelabuhan Negeri Cina. Diceritakan, pada tahun 758 M, Kanton merupakan salah satu tempat tinggal para pedagang Arab. Pada abad IX, di setiap pelabuhan yang terdapat di sepanjang rute perdagangan ke Cina, hampir dapat dipastikan ditemukan sekelompok kecil pedagang Islam. Pada abad XI, mereka juga telah tinggal di Campa dan menikah dengan penduduk asli, sehingga jumlah pemeluk Islam di tempat itu semakin banyak. Namun, rupanya mereka belum aktif berasimilasi dengan kaum pribumi sehingga penyiaran agama Islam tidak mengalami kemajuan.

Sebagai salah satu bandar ramai di kawasan timur, Malaka juga ramai dikunjungi oleh para pedagang Islam. Lambat laun, agama ini mulai menyebar di Malaka. Dalam perkembangannya, raja pertama Malaka, yaitu Prameswara akhirnya masuk Islam pada tahun 1414 M. Dengan masuknya raja ke dalam agama Islam, maka Islam kemudian menjadi agama resmi di Kerajaan Malaka, sehingga banyak rakyatnya yang ikut masuk Islam.

Selanjutnya, Malaka berkembang menjadi pusat perkembangan agama Islam di Asia Tenggara, hingga mencapai puncak kejayaan di masa pemeritahan Sultan Mansyur Syah (1459—1477). Kebesaran Malaka ini berjalan seiring dengan perkembangan agama Islam. Negeri-negeri yang berada di bawah taklukan Malaka banyak yang memeluk agama Islam. Untuk mempercepat proses penyebaran Islam, maka dilakukan perkawinan antarkeluarga.

Malaka juga banyak memiliki tentara bayaran yang berasal dari Jawa. Selama tinggal di Malaka, para tentara ini akhirnya memeluk Islam. Ketika mereka kembali ke Jawa, secara tidak langsung, mereka telah membantu proses penyeberan Islam di tanah Jawa. Dari Malaka, Islam kemudian tersebar hingga Jawa, Kalimantan Barat, Brunei, Sulu dan Mindanau (Filipina Selatan).
Malaka runtuh akibat serangan Portugis pada 24 Agustus 1511, yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque. Sejak saat itu, para keluarga kerajaan menyingkir ke negeri lain.


Silsilah

Raja/Sultan yang memerintah di Malaka adalah sebagai berikut:
1. Permaisura yang bergelar Muhammad Iskandar Syah (1380—1424)
2. Sri Maharaja (1424—1444)
3. Sri Prameswara Dewa Syah (1444—1445)
4. Sultan Muzaffar Syah (1445—1459)
5. Sultan Mansur Syah (1459—1477)
6. Sultan Alauddin Riayat Syah (1477—1488)
7. Sultan Mahmud Syah (1488—1551)


Periode Pemerintahan

Setelah Parameswara masuk Islam, ia mengubah namanya menjadi Muhammad Iskandar Syah pada tahun 1406, dan menjadi Sultan Malaka I. Kemudian, ia kawin dengan putri Sultan Zainal Abidin dari Pasai. Posisi Malaka yang sangat strategis menyebabkannya cepat berkembang dan menjadi pelabuhan yang ramai. Akhir kesultanan Malaka terjadi ketika wilayah ini direbut oleh Portugis yang dipimpin oleh Alfonso d’albuquerque pada tahun 1511. Saat itu, yang berkuasa di Malaka adalah Sultan Mahmud Syah.

Usia Malaka ternyata cukup pendek, hanya satu setengah abad. Sebenarnya, pada tahun 1512, Sultan Mahmud Syah yang dibantu Dipati Unus menyerang Malaka, namun gagal merebut kembali wilayah ini dari Portugis. Sejarah Melayu tidak berhenti sampai di sini. Sultan Melayu segera memindahkan pemerintahannya ke Muara, kemudian ke Pahang, Bintan Riau, Kampar, kemudian kembali ke Johor dan terakhir kembali ke Bintan. Begitulah, dari dahulu bangsa Melayu ini tidak dapat dipisahkan. Kolonialisme Baratlah yang memecah belah persatuan dan kesatuan Melayu.


Wilayah Kekuasaan.

Dalam masa kejayaannya, Malaka mempunyai kontrol atas daerah-daerah berikut:
1. Semenanjung Tanah Melayu (Patani, Ligor, Kelantan, Trenggano, dan sebagainya).
2. Daerah Kepulauan Riau.
3. Pesisir Timur Sumatra bagian tengah.
4. Brunai dan Serawak.
5. Tanjungpura (Kalimantan Barat).

Sedangkan daerah yang diperoleh dari Majapahit secara diplomasi adalah sebagai berikut.
1. Indragiri.
2. Palembang.
3. Pulau Jemaja, Tambelan, Siantan
, dan Bunguran.