Minggu, 17 Juli 2011

DEMONSTRASI DI TITIK NOL JOGJA , TAHUN 1998

DEMONSTRASI DI TITIK NOL JOGJA , TAHUN 1998Berikut ini foto tentang pengunjuk rasa (demonstrasi) yang terjadi di luar gedung Bank Indonesia (yang oleh Belanda dulu dinamakan De Javasche Bank) dan Kantor Pos (pusat) di Jogja. Demonstrasi ini terjadi pada tanggal 20 Mei 1998. Rombongan demonstran ini akan bergabung dengan rombongan demonstran lain di Alun-alun Utara Jogja. Saat itu di Alun-alun Jogja mereka akan mengajukan keluh kesah hidup yang dialami oleh seluruh bangsa. Acara tersebut pada masa itu dikenal sebagai Pisowanan Agung. Mereka mengadukan segala kesulitan hidupnya kepada raja yang dalam hal ini adalah Sri Sultan Hamengku Buwana X.

Saat itu, Mei tahun 1998 itu gema reformasi begitu membahana. Orang sudah lelah, tertekan, dan merasa selalu jadi objek atau korban dari sebuah kekuasaan yang berlangsung demikian lama. Soal ekonomi yang menghimpit hidup turut menjadi pencetus utama. Demikian pula korupsi dan berbagai praktek kebohongan dan tetek bengek yang manipulatif sudah demikian memuakkan. Termasuk juga berbagai pelanggaran hukum dan HAM.

Rakyat begitu mendambakan kehidupan yang berkeadilan, makmur, aman, nyaman, bebas dari rasa takut, dan tenteram. Namun apa yang menjadi dambaan itu tampaknya belum terpenuhi. Kelelahan, kejengkelan, depresi yang terus menekan meledakkan demonstrasi besar-besaran dan akhirnya menuntut Presiden Soeharto mundur atau lengser.

Saat itu Jogja boleh dikatakan terus bergolak dengan demonstrasi dan hal ini dibarengi juga dengan demonstrasi serupa di berbagai kota. Mahasiswa dan pemuda menjadi motor utamanya. Reformasi bisa diraih. Namun dalam perjalanan selanjutnya ternyata jalannya tidak mulus. Terseok, terjerembab, terperosok, terjeblos dalam berbagai kasus yang sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan kasus-kasus lama (klasik). Korupsi, pelanggaran HAM dan hukum, ketidakjujuran, mafia di berbagai sektor, kriminal, dan lain-lain masih tetap membelit, menghisap, meremukkan.

Semangat yang ditampakkan dalam foto tersebut kini seolah menguap oleh berbagai praktek ketidakjujuran, keegoisan, dan sikap-sikap mementingkan diri sendiri-kelompok-dan golongannya. Pemikiran untuk mengabdi demi kepentingan bangsa tinggal menjadi mimpi yang barangkali kian menguap.

a.sartono

Sumber: M.P. van Bruggen, R.S. Wassing, dkk., 1998, Djokdja en Solo Beeld van de Vorstensteden, Nederland: Asia Major.