Minggu, 17 Juli 2011

Malioboro 1949

Malioboro 1949Gambar yang ditampilkan ini adalah gambar situasi Jalan Malioboro, Jogja tahun 1949. Tepatnya tanggal 29 bulan Juni. Kendaraan militer yang melintas di Malioboro yang tampak dalam gambar tersebut adalah kendaraan militer Belanda. Mereka yang melintasi Malioboro pada waktu itu merupakan rombongan terkahir pasukan Belanda dari kesatuan Polisi Militer. Mereka itu semula ditugaskan untuk mengatur lalu lintas di Jogja. Mereka meninggalkan Jogja di bawah kawalan panser lapis baja menuju sisi (ujung) Jalan Malioboro.

Jika ditilik situasinya kelihatan bahwa Malioboro waktu itu kelihatan sunyi. Kesibukan yang ada hanya ditampakkan oleh berlalunya rombongan pasukan polisi militer Belanda itu saja. Mungkin saat itu banyak warga Jogja yang lebih memilih menyingkir dari Malioboro yang sedang digunakan untuk jalan pulang pasukan Belanda. Selain itu, penduduk di Jogja waktu itu tentu saja belum sepadat sekarang. Malioboro belum menjadi ruang yang sangat diperebutkan. Belum banyak pedagang, tukang parkir, jasa angkutan, hotel, restoran, toko, dan sebagainya.

Kini, di tahun 2011, artinya setelah 62 tahun kemudian Malioboro telah berubah begitu drastis. Sangat padat. Baik oleh bangunan, kendaraan, lapak, maupun orang. Ruas jalan utama di Jogja ini menjadi tidak mudah untuk dikelola. Banyak orang punya kepentingan di sana dan semuanya tentu saja, butuh ruang di sana. Orang harus berbagi. Ruang yang dulu bisa dikatakan lega itu kini kian menyempit, terbagi menjadi kapling-kapling ruang yang terus mengecil.

Malioboro bagi Jogja boleh dikatakan sebagai jantung. Di dalamnya tidak saja kepentingan lahiriah yang dipangku, namun Malioboro juga sarat makna. Malioboro juga memiliki banyak catatan sejarah. Baik yang diingat maupun yang terlupakan.

a.sartono

M.P. van Bruggen, R.S. Wassing, dkk., 1998, Djokdja en Solo, Nederland: Asia Major.