Minggu, 17 Juli 2011

Djogdja Tempo Doeloe - SUARA GEROBAK DAN GENTA ITU TIDAK ADA LAGI

Pada masa lalu ketika kendaraan bermotor belum marak di Indonesia, maka kendaraan tak bermesinlah yang berperanan penting. Gerobak, cikar, andong, dokar adalah kendaraan tanpa mesin yang sangat diandalkan bagi para penduduk. Lebih-lebih penduduk yang tinggal di daratan. Penduduk pantai atau perairan tentu beda lagi kebutuhan kendaraannya.

Jawa akrab dengan kendaraan-kendaraan tanpa mesin itu. Binatang penarik kendaraan baik itu kuda, sapi, atau kerbau juga menjadi bagian yang akrab dari mereka. Bahkan keakraban itu bisa sangat bersifat emosional.

Jika kita cermati, maka pada masa-masa itu tentulah belum banyak pencemaran udara. Pabrik masih relative sedikit. Kendaraan bermesin nyaris tidak ada. Jalan raya masih terbatas. Hunian pun belum padat. Lintasan deretan andong atau gerobak bisa terasa begitu indahnya. Suaranya tidak berisik, ketiplak-ketiplak suara hentakan kaki kudanya bisa terdengar berirama. Genta dari gerobak yang dikalungkan pada leher sapi juga memberikan sentuhan bunyi yang indah di sepanjang jalan. Kesunyian jalanan yang tanpa hiruk pikuk mesin itu seolah diisi satu dua bunyi genta atau bel andong yang suaranya menggema masuk menelusup sudut-sudut desa yang dilewati. Hal seperti ini dapat kita lihat pada hampir semua jalan-jalan di Jawa masa lalu, termasuk Yogyakarta. Kini suara knalpot kendaraan bermesin selalu terdengar sepanjang waktu. Kepulan asap knalpot jug menggelontor udara setiap saat. Kini kita hidup dengan segala kecepatan, kemajuan dengan segala resiko buruknya.

Era kendaraan bermesin turut mengubah segalanya. Jalan diperlebar dan diperbanyak sehingga bidang tanah seolah sebagian besar diperuntukkan pembuatan jalan di samping bangunan. Pepohonan ditebangi. Kendaraan bermesin berjubal di jalanan menebar polusi udara dan polusi suara. Kecelakaan serta kesemrawutan bertambah dan seolah-olah tidak pernah berhenti. Orang seperti dikejar waktu untuk memenuhi kebutuhan dan kewajibannya. Semua harus serba cepat, cepat, dan cepat. Tuntutan akan kecepatan sepertinya tidak memikirkan lagi resiko keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan keselarasan kehidupan.

Kini kenangan akan kendaraan seperti gerobak, andong, cikar, dokar yang melintas di jalan dengan santai atau mat-matan tidak ada lagi. Mereka telah terpinggirkan. Barangkali kelak, akan muncul lagi sistem kendaraan yang lebih cepat dari kendaraan yang kita kenal sekarang. Kendaraan era super cepat ini mungkin akan segera menggeser era mesin yang kita kenal sekarang. Siapa tahu ? Demikianlah zaman terus bergerak meninggalkan masa lalu mengejar masa depan, seolah masa depan itu serba enak, serba maju, serba hebat, serba nyaman, serba cepat, serba bagus, indah, serba luar biasa. Benarkah begitu ?

Sartono
Sumber: Satake, 1935, Camera-Beelden van Sumatra, Java & Bali, Middlesbrough: Hood & Co. Ltd.