Minggu, 17 Juli 2011

Djogdja Tempo Doeloe - GADIS JAWA PEMETIK PADI, 1935

Catatan: berikut ini kami sajikan hal-hal yang berkaitan dengan Jawa pada umumnya di masa lalu (bukan hanya Yogya dan Solo)

Pada saat ini hampir tidak mungkin lagi didapatkan pekerja pemetik padi yang menggunakan alat yang berupa ani-ani. Ani-ani adalah alat semacam pisau yang bilang tajamnya dipasang pada sebidang papan kecil. Papan kecil ini kemudian diberi tangkai vertical (melintang) di tengah papan tersebut. Tangkai ani-ani umumnya terbuat dari bambu dengan diameter sekitar 2,5-3 Cm. Pada ujung tangkai yang terbuat dari bamboo ini biasanya dibuat meruncing dengan fungsi agar bisa diselipkan di atas gelungan rambut atau di pelipit dinding bambu. Panjang tangkai ini sekitar 15-20 Cm.

Sedangkan papan sebagai tempat melesakkan bilah/lempengan pisau itu mempunyai ukuran sekitar 5 Cm x 8 Cm dengan ketebalan papan tidak lebih dari 1 Cm. Lebar bilah pisau itu sendiri juga tidak lebih dari 1 Cm.

Dengan alat seperti itulah wanita-wanita Jawa di masa lalu menuai padi di sawah. Kita bisa membayangkan sendiri bahwa proses penuaian padi dengan alat yang hanya bisa dipegang oleh satu tangan ini tentu membutuhkan waktu yang cukup lama. Tidak mengherankan jika proses pemanenan padi di Jawa pada masa lalu relatif membutuhkan banyak tenaga penuai. Secara tradisi pula proses penuaian padi ini hampir seluruhnya melibatkan kaum hawa.

Hal-hal seperti tersebut di atas tentu saja tidak bisa dilepaskan dari tradisi agraris di Jawa beserta mitos dan legenda yang melingkupinya. Padi bagi masyarakat Jawa adalah buah kemurahan Dewi Kesuburan atau Dewi Sri atau bahkan dianggap sebagai pengejawantahan dari Dewi Sri sendiri. Oleh karena itulah padi diperlakukan secara istimewa. Pemanenan dengan menggunakan alat yang berupa ani-ani hanya dapat dilakukan dengan memotong batang padi setangkai demi setangkai. Proses ini dianggap sebagai bentuk penghargaan terhadap Dewi Sri.

Kecuali itu, dari hal tersebut sebenarnya dapat juga ditarik dugaan bahwa prose s penuaian padi dengan cara-cara tersebut merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap karya atau kinerja sendiri. Jika bukan diri sendiri yang menghargai karyanya sendiri, lalu siapakah yang akan menghargai karya sendiri. Demikian kira-kira filosofi yang diterapkan dalam dunia pertanian padi ini. Dari sisi ini pula sebenarnya dapat ditarik kesimpulan bahwa penghargaan terhadap hasil kerja sendiri melahirkan rasa cinta yang dalam, keterikatak emosional dengan karya tersebut. Demikian pula halnya dengan dunia perpadian di Jawa masa lalu.

Tidak mengherankan jika masyarakat Jawa sering pula berdialog dengan tanaman padi dengan membayangkan bahwa padi menanggapi omongannya. Ini bukan sesuatu yang aneh atau gila. Ini adalah bentuk keterikatan emosional yang mendalam antara pencipta karya (kerja) dengan objek ciptaan/kerjanya. Dengan demikian, objek kerja secara pasti akan diperlakukan dengan sebaik-baiknya sehingga hasilnya pun baik. Baik secara fisik maupun baik (memuaskan) secara batin. Hal semacam ini dapat disejajarkan dengan proses pembuatan keris oleh para empu.

Berikut ini kami sajikan gambar Gadis Jawa Pemetik Padi hasil reproduksi dari buku berjudul Camera-Beelden van Sumatra, Java, Bali karya K.T. Satake yang dipublikasikan di Surabaya tahun 1935 serta dibuat dan dicetak di kota Middlesbrough, Inggris oleh Hood & Co. Ltd.. Barangkali di zaman sekarang tidak akan pernah ditemukan lagi seorang gadis dengan penampilan dan kegiatan seperti itu.

Sartono