Minggu, 17 Juli 2011

Djogdja Tempo Doeloe - EMBER BAMBU DI MASA LALU

Seiring dengan perjalanan waktu, manusia banyak menciptakan alat-alat baru. Semua dilakukan demi kenyamanan, kelancaran, kenikmatan, dan bahkan kemewahan hidup manusia. Sangat banyak alat atau benda yang diciptakan oleh karena akal budi manusia. Mulai dari alat untuk membersihkan pekarangan (sapu) hingga alat untuk terbang melayang di luar angkasa.

Dalam tingkat yang sederhana manusia mengambil air hanya dengan menangkupkan kedua telapak tangannya sehingga membentuk wadah yang cekung. Bahkan tidak jarang pada masa yang paling sederhana manusia menghirup air langsung dari sumber mata air seperti yang dilakukan semua hewan yang oleh orang Jawa disebut dengan ngokop.

Pada tingkat kehidupan yang lebih maju manusia memerlukan alat yang lebih memadai untuk mengambil air. Anyaman daun mungkin menjadi salah satu alternatifnya. Hal seperti ini cukup lazim di daerah Nusa Tenggara yang banyak ditumbuhi pohon lontar. Tempurung buah maja dan buah kelapa juga menjadi alat untuk mengambil (menciduk) air. Bahkan hingga kini gayung yang terbuat dari hasil tumbuh-tumbuhan ini tetap digunakan meskipun dalam skala yang kecil.

Sebelum maraknya ember dan klenting (jun), yakni alat untuk mengambil air yang terbuat dari gerabah, batangan bambu lebih dulu lazim digunakan untuk mengambil atau mengangkut air. Umumnya bambu yang digunakan untuk keperluan itu adalah bambu yang berdiameter relatif lebar. Jenis bambu betung merupakan salah satu pilihannya. Bambu ini dipilih karena di Jawa bambu ini memang dikenal sebagai bambu yang memiliki diameter paling besar dibandingkan dengan jenis bambu lainnya.

Alat pengangkut air yang terbuat dari bambu ini umumnya berukuran setinggi orang dewasa. Bagian terbawah dari bambu yang digunakan untuk alat ini merupakan bagian ruas dari bambu. Sedangkan ruas-ruas di atasnya yang berfungsi sebagai penyekat dilobangi dengan linggis atau kayu tajam yang kuat. Dengan demikian terbentuklah tabung panjang dengan bagian yang rapat di bagian paling bawah. Cara mewadahi atau memasukkan air ke dalam tabung bambu ini cukup dengan menadahkannya di kucuran air atau membenamkannya ke sebuah telaga atau sendang. Untuk membawanya bisa dengan cara digendong atau dipikul.

Kini wadah air dari bambu ini sudah sangat sulit ditemukan di desa-desa di Jawa (Yogyakarta). Foto di atas menunjukkan bagaimana wanita di pedesaan di Jawa masa lalu mengambil air dengan menggunakan tabung bambu.

Sartono
Sumber: Satake, K.T., 1935, Camera Beelden van Sumatra, Java, & Bali, Middlesbrough: Hood & Co. Ltd., halaman 219.